Sekilas memang judul diatas membuat orang berpikir,”kok bisa ya musjur(mushola jurusan) baru naas keadaannya?” Tetapi judul tersebut tepat untuk menggambarkan keadaan sebuah mushola baru yang dibangun kira-kira bulan Juni 2008, yang berada tepat didepan sekretariat Keluarga Mahasiswa Teknik Fisika UGM (KMTF UGM). Dari awal pembangunannya saja menimbulkan banyak kontroversi, dimulai dari Ketua KAMADZ (Keluarga Muslim Adz-Dzahra) yaitu sebuah organisasi dakwah Islam di Jurusan Teknik Fisika (JTF) yang tidak di berikan informasi bahwa akan dibangun musjur baru yang nantinya musjur yang lama akan di alih fungsikan menjadi sebuah ruangan yang belum tahu akan dipergunakan untuk apa nantinya. Singkat cerita, akhirnya Ketua KMTF, Ketua KAMADZ dan perwakilan mahasiswa dipanggil untuk membahas bangunan tersebut. Akhirnya didapakan hasil tentang bentuk bangunan yang waktu itu sudah mulai dibuat fondasinya. Sebuah langkah kebijakan yang terlambat menurut saya, tapi setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Setelah beberapa bulan kira-kira akhir Agustus 2008, musjur baru tersebut “katanya” sudah rampung dibangun, karena tukang yang biasa bekerja disitu sudah selesai membangun musjur tersebut. Tetapi, secara fisik bangunan tersebut belum layak dijadikan sebuah tempat untuk berbagai kegiatan, karena masih kotor dan banyak kekurangan seperti belum adanya pintu seperti yang dijanjikan oleh pengurus jurusan pada pertemuan waktu itu. Dan yang membuat saya aneh lagi, karena setelah bangunan tersebut selesai dibangun, para pengurus jurusan seolah cuek dengan hal tersebut. Sehingga kegiatan peribadatan masih dilakukan di musjur yang lama hingga sekarang. Akhirnya musjur baru tersebut dengan inisiatif oleh beberapa orang dibersihkan karena sudah tersedia air untuk wudlu. Setelah mushola dibersihkan, akhirnya mushola tersebut sudah bisa digunakan walaupun belum ada pintunya!
Beberapa bulan kemudian, akhirnya bangunan mushola yang kabarnya menelan dana 50 juta rupiah lebih tersebut dipasangi pintu juga. Tersiar kabar mengapa pintu tersebut lama sekali dipasangi pintunya karena anggaran dana untuk membuat mushola tersebut melebihi dari anggaran awal sehingga untuk menambah pintu diperlukan anggaran dana baru. Walaupun terkesan terkatung-katung, tapi akhirnya selesai juga proyek tersebut.
Kegembiraan saya dan teman-teman yang lainnya khususnya dari KAMADZ hanya bertahan beberapa lama saja karena didapati bahwa tembok pada pinggir-pinggir mushola yang berada disisi tempat wudhu rembes. Sungguh ironis sekali. Belum sampai disitu kekecewaan kami, suatu malam pada musim hujan tahun ini, hujan sangat amat lebat, sehingga keesokan harinya didapati bahwa lantai mushola tersebut basah terkena bocoran air hujan! “Hah, musjur baru bocor?”,kata salah seorang dari pengurus KMTF. Bayangkan saja belum ada setengah tahun bangunan tersebut selesai dan belum diserah terimakan dari Ketua Jurusan kepada Ketua KAMADZ tapi atapnya sudah bocor! Padahal ruang KMTF yang sudah beberapa tahun dibangun tidak bocor sama sekali, dan padahal genteng ruang KMTF terbuat dari asbes dan kalah megah dari mushola baru tersebut.
Belum ada tanggapan resmi dari Ketua Jurusan, dan saya juga belum tahu apakah Ketua Jurusan tahu bahwa musjur baru tersebut bocor. Tapi yang jelas Pengurus Jurusan tetap terus membangun sebuah bangunan baru yang sekarang sudah rampung dan lagi-lagi Pengurus Jurusan terkesan cuek dengan realita yang ada di lapangan. Semoga tulisan ini bemanfaat untuk yang membaca, tidak ada niat untuk melecehkan atau menghujat pihak-pihak tertentu, saya hanya mengkritisi kebijakan Pengurus Jurusan.-AR-